◾ Insights Hub

Belajar Mengatasi Quarter Life Crisis dari Kisah Orang Lain

Kami mengkurasi kisah nyata dari public figure, influencer, content creator, dan berbagai narasumber yang pernah melewati fase quarter life crisis. Setiap video yang terkurasi telah dilengkapi dengan timestamp, sehingga kamu bisa langsung menonton pada bagian yang membahas pengalaman terkait quarter life crisis mereka.

Eva Alicia

Eva pernah mengalami krisis identitas (ia tidak menyebutnya sebagai QLC) ketika ia merasa hampa meskipun telah meraih kesuksesan finansial di usia muda. Momen ini memicu kesadaran dirinya bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya bersifat I-centric (untuk diri sendiri), tetapi juga harus we-centric (bermanfaat bagi orang lain).

Kevin Anggara

Kevin Anggara mengalami quarter life crisis saat magang semester akhir kuliah karena merasa bingung mengenai arah dan tujuan hidupnya setelah semua kewajiban akademis (sekolah dan kuliah) selesai. Setelah berdiskusi dan merenung, ia menyimpulkan bahwa tujuan hidupnya kini adalah untuk menikmati hidup itu sendiri.

Xaviera & Fathia

Fathia merasakan quarter life crisis setelah lulus S2 karena kesulitan mencari pekerjaan di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Sementara itu, Xaviera juga mengalami hal serupa menjelang akhir masa kuliah, di mana ia merasa FOMO saat melihat teman-temannya sudah mulai bekerja, berbisnis, atau melanjutkan studi.

Maudy Ayunda

Maudy menyebutkan bahwa krisis di usia 20-an, termasuk quarter life crisis, adalah hal yang tidak terhindarkan. Menurutnya, krisis tersebut sering kali muncul dalam bentuk kebingungan mengenai pekerjaan, identitas diri, hingga mempertanyakan hubungan sosial, dan ia sendiri sempat merasa panik saat mengalaminya di masa lalu.

Ify, Priscilla, Sivia

Ify Alyssa, Sivia Azizah, dan Agatha Pricilla membagikan pengalaman quarter life crisis mereka. Krisis tersebut dipicu oleh berbagai momen pribadi, seperti kehilangan sosok ayah saat pandemi (Ify), fase setelah menikah dan peran baru setelah memiliki anak (Sivia), dan juga kendala karena tekanan writer's block yang dialami (Agatha).

Abigail Limuria

Abigail mengalami quarter life crisis pasca kuliah yang ditandai dengan kebingungan terhadap jati diri, tujuan hidup, serta arah karir yang harus ditempuh. Situasi ini muncul akibat tekanan perubahan drastis di usia 20-an dan rasa kewalahan menghadapi banyaknya pilihan serta informasi yang tersedia (analysis paralysis).

Arief Muhammad

Arief pernah minder melihat teman-teman kuliahnya sudah mulai bekerja di kantor hukum, berpakaian rapi dengan setelan jas, sementara waktu itu ia belum menyelesaikan kuliahnya dan justru sibuk merintis usaha sate Jepang (Yakitori) beberapa waktu setelah popularitas akun "Poconggg" nya di Twitter menurun.

Gita Savitri & Paul Partohap

Gita dan Paul (suaminya) pernah mengalami quarter life crisis, bahkan dimulai pada umur 18 tahun saat pindah ke Jerman. Paul sempat meragukan impiannya menjadi dokter di tengah perjuangan kuliah. Sementara Gita menyadari ketidaksukaannya pada kerja kantoran dan memilih berfokus menjadi sosok yang berdampak bagi sesama.

Agatha Chelsea

Agatha mengalami krisis identitas saat lulus kuliah karena kehilangan struktur akademis dan merasa tertekan sebagai overachiever. Transisi dari dunia pendidikan yang terukur ke dunia kerja yang tidak pasti memicu burnout, menjadikannya tantangan emosional yang nyata meski ia memahami teori psikologi di baliknya.

Keke Genio

Keke mengalami quarter life crisis saat berusia 25 tahun, khususnya terkait dilema karier antara berbisnis sendiri atau bekerja di consulting firm yang menimbulkan dilema internal tentang citra diri dan persepsi dari orang lain. Ia juga menjelaskan refleksi pribadinya dalam menghadapi ekspektasi hasil dan tekanan menjadi sempurna.

Yunita Siregar

Yunita awalnya pernah bercita-cita menjadi pramugari namun terhalang kendala fisik, lalu menempuh pendidikan Finance and Banking di universitas, tetapi justru diarahkan oleh keadaan untuk terjun ke industri kreatif, yang membuatnya mempertanyakan apakah keputusan tersebut adalah jalan hidup yang tepat.

Coco Xu

Coco mengalami fase "crash out" tepat setelah ia berulang tahun yang ke-25. Ia merasa kehilangan jati diri dan merasa "kurang bahagia setiap harinya" karena terlalu fokus pada ekspektasi orang lain dan mencoba menjadi versi dirinya yang ia pikir akan "menang" dalam dunia korporat. Ia juga pernah merasa tertekan oleh standar yang ditetapkan oleh lingkungan sekitar.

◾ FAQ

Frequently Asked Questions

Bagaimana konsep dari page Insights Hub ini?

Pada page ini, kami mengkurasi video-video dari YouTube yang memiliki pembahasan spesifik di mana public figure, influencer, content creator, dan berbagai narasumber yang pernah melewati fase quarter life crisis.

Bukan. Video-video tersebut dibuat oleh Channel YouTube yang reference nya sudah kami sebutkan di masing-masing video.

Tidak. Kami hanya mengembed link video dari Channel YouTube yang telah disebutkan pada keterangan reference, lalu menambahkan start time pada section ketika narasumber mulai membicarakan topik seputar quarter life crisis (or related) yang pernah dialami mereka. Layanan ini berbeda dari konsep clipping.

Ya. Visitor website yang menonton video pada embedded link di page ini, tidak dipungut biaya apapun dan kami tidak mencari keuntungan finansial untuk perorangan atas layanan ini.

Ya, dalam jangka dekat kami sedang berencana untuk menambah koleksi kurasi video. Kami juga berencana mengembangkan ke topik-topik spesifik lain yang terkait dengan quarter life crisis, misalnya: Sandwich Generation, Career Switch, dll.

Kami sedang membuka rekrutmen volunteer dengan posisi Content Researcher (durasi volunteer sekitar 3 bulan). Kamu dapat mengunjungi link di bawah ini untuk mengetahui info lebih lanjut.

Ada. Kalian bisa klik link di bawah ini untuk menghubungi CP melalui Whatsapp.